Penantian
Senja
Udara senja menyeruak keseluruh
ruangan. Aku sedikit menarik napas panjang dan mencoba membiarkan
katub udara di jantungku merasakan kesegarannya.
Senja kali ini terasa sunyi,
tanpa desiran angin yang biasanya aku rasakan dari pohon-pohon di
halaman rumah. Burung-burung kecil yang biasanya bertengger
di lampu taman sore pun kali ini tidak terlihat. Mengapa suasana sore
ini seakan membuatku merasa semakin kesepian?
*****
Aku
mecintaimu, akan seperti itu selamanya.
Aku
tahu engkau tidak akan pernah benar-benar meninggalkanku
Aku
akan menunggumu
Dengan
senyuman yang mengembang dan tatapan penuh kasih
Biar
pun harus menunggumu dengan kesendirian dan penuh harap
Aku
yakin kamu pasti datang
Memberikanku
kejaiban baru
Datanglah
dan jadikan
aku sebagai tahta cintamu
Wahai
kekasihku…
***
Matahari
siap
pergi keperaduannya
untuk digantikan sang jubah malam yang akan membungkusnya. Sengatan
cahayanya mulai memudar. Desiran angin mulai terasa dan aku sudah
menutup mataku untuk merasakan belaiannya.
Inilah
kebiasaanku sejak dia pergi dua tahun lalu. Aku berjanji pada diriku
sendiri untuk selalu menantinya bersama datangnya senja.
Mempersilakan udara yang mulai dingin untuk menyentuh kulitku dan
menanti kehadirannya melalui hembusan angin yang membawa aroma
wewangian surga.
Tidak
ada satu sore pun yang terlewatkan olehku untuk menantinya. Aku
selalu menantimu kerana itulah harapan hidupku saat senja muncul.
****
Tiga
tahun lalu
Aku
bertemu lagi dengannya, pemuda berwajah
manis dengan
tatapan lembut itu. Kali ini aku menemukannya sedang tertawa lepas,
suaranya merdu terdengar dan yang menakjubkan matanya memancarkan
cahaya kebahagiaan. Saat mendengarnya berbicara aku tahu dia pemuda
yang baik. Tutur katanya tertata dan pasti siapa pun yang berbicara
dengannya pasti akan segan berlama-lama untuk berbincang.
Aku
tertegun sejenak dari tempatku berdiri, menatapnya penuh arti.
“Wahai
pemuda diujung sana siapakah nama dikau aku ingin berkenalan
denganmu. Bolehkah aku manyapamu bila bertemu lagi? Namaku Windy,
barangkali kamu mau menyapaku bila bertemu nanti,”
ucapku saat itu.
Hari ini jadwal kuliahku padat, baru selesai saat cahaya terang
matahari mulai digantikan oleh sang senja. Tidak ingin menunggu lama
di angkot karena kemacetan kota metropolis seperti Surabaya, aku
pun bergegas meninggalkan kampus dan segera mencari tumpangan yang
setiap hari aku jadikan alat perpindahanku dari rumah ke kampus.
Aku
mencari bangku didekat jendela, hari ini angkot cukup lenggang
membuatku mempunyai tempat untuk membuka buku. Dengan buku dipangkuan
ditambah semilir angin sore mebuatku semakin menikamti bacaan yang
ingin segera aku selesaikan. Tanpa kusadari suara itu tiba-tiba
terdengar olehku, suara yang membuatku selalu ingin berkenalan dan
berbincang dengannya.
Benar
saja itu ternyata dia, pemuda manis dengan tatapan lembut itu duduk
disamping orang yang ada didepanku. Sekarang dengan ramah dia
membantu ibu yang membawa banyak belanjaan untuk naik keatas angkot.
Tuhan, sudah lamakah dia disini.
Setelah
beberapa penumpang turun tinggallah empat orang lagi yang masih
tersisa. Termasuk dia yang sekarang sedang menatap dan tersenyum
kepadaku. Saat ini duduknya sudah bergeser cukup dekat dihadapanku
dengan jarak yang tidak lebih dari tiga puluh sentimeter.
“Aku
selalu melihatmu naik angkot jurusan ini, tapi sayangnya kita tidak
pernah satu angkot, baru kali ini aku bisa satu angkot denganmu,”
katanya dengan senyum yang masih mengembang.
“Jadi
kamu pernah melihatku?” tanyaku yang aku tahu kata-kata itu
seharusnya tidak aku ucapakan, tapi sudah terlanjur keluar begitu
saja.
“Tentu.
Kenalkan namaku Diandra,” ucapnya dengan senyuman yang membuat
jantungku
berdegup cepat.
“Aku
Windy,” jawabku sambil membalas senyumannya.
Sore
itu benar-benar indah. SANGAT INDAH. Selama sepuluh menit kami
berbincang banyak hal. Mulai dari menanyakan tempat tinggal kita
masing-masing, hingga berbicara soal kuliah. Kecintaannya pada pola
ruangan membuatnya mendalami ilmu arsitektur. Dan yang paling
menakjubkan dari perbincangan singkat itu adalah kita memiliki
kecintaan
yang sama terhadap
buku.
Sejak
peristiwa di angkot itu, kita menjadi saling mengenal. Benar saja
Diandra adalah seseorang yang menyenangkan, ada perasaan selalu ingin
berlama-lama bila sudah didekatnya. Tidak lama dari perkenalan
singkat itu, dia menyatakan semuanya. Hatiku bergetar saat suaranya
terdengar mengalun lembut dengan tutur kata yang santun, dan
pernyataan singkat yang dia utarakan merubah segalanya.
Diandra
as-shafi, pemuda berusia 22 tahun yang ternyata sudah lama ingin
berkenalan denganku. Memperhatikanku setiap aku menunggu angkot
dengan buku yang selalu ada didekapanku. Selalu bertanya-tanya siapa
namaku dan kira-kira apa yang aku
suka. Pemuda yang
mencintai ilmu dan agamanya itu ternyata menyukaiku. Dia sendiri
tidak tahu apa yang membuatnya ingin selalu memperhatikanku. Ada
sesuatu yang kurang saat dia tidak menemukanku berdiri menunggu
angkot didepan gerbang kampus.
Duhai
semilir angin senja, indah nian perasaan cinta itu. Ada getar hebat
saat merasakannya. Seolah hati ini mendapatkan pancaran sinar surga
yang tak pernah redup. Kekaguman yang selama ini aku rasakan padanya
ternyata terbalaskan. Seakan Tuhan sudah menuliskan kisah kita ini
dihamparan kanvas takdir kehidupan.
Sejak
dia menyatakan perasaan tulusnya itu, kami menjalin hubungan sebagai
sepasang kekasih. Merajut cinta dengan benih-benih kasih. Belajar
mengerti dan memahami satu sama lain. Kisah indah yang akan selalu
terpupuk didalam hati kita. Hingga kabar itu datang bagaikan asap
yang dengan cepat menyeruak keseluruh
ruangan. Kabar
yang membuat semuanya berubah. Menghancurkan hidup dan harapan akan
cintaku yang telah aku goreskan dalam bait-bait puisi kehidupanku.
Tuhan
tahu kita saling mencintai, merasa saling membutuhkan sebagai
sepasang kekasih. Nafas yang dia hembuskan adalah udara segar bagiku
begitu juga sebaliknya, tapi dibalik kanvas kehidupan itu Tuhan
menulis takdir lain. Selama ini Diandra mengidap penyakit mematikan,
sejak berumur delapan belas tahun penyakit itu sudah bersarang dalam
dirinya. Dia berhasil merahasiakan semuanya dariku dan orang-orang
disekitarnya, hingga suatu hari saat senja tiba, penyakit itu dengan
hebat membuat Diandra kesakitan luar biasa. Dan hatiku remuk saat
dokter mengatakan bahwa kanker otak yang diderita Diandra
mengalami kenaikan menjadi
stadium empat dan dia divonis hanya memiliki waktu satu bulan untuk
hidup, bahkan bisa lebih cepat.
Pemuda yang menjadikanku sebagai
permata berkilau baginya. Pemuda yang menyanyangiku setulus hati,
mengajarkanku akan arti cinta yang rumit, tapi penuh arti. Pemuda
yang mampu membuka mata hatiku akan keindahan dan keajaiban sebuah
kehidupan. Ternyata memiliki takdir lain, takdir yang membuat raga
kita tidak akan bersatu.
****
Dirimu
adalah bait-bait kehidupanku. Bertemu dan bercinta denganmu adalah
takdir Tuhan yang begitu indah aku rasakan.
Windy, kekasihku aku mencintaimu,
tulus dari dasar samudra hatiku yang paling dalam. Pancaran sinar
matamu bagaikan cahaya kehidupaku. Aku hanyalah pemuda biasa yang
menjadikamu sebagai tahta cintaku selama-lamanya hingga rangga ini
tak lagi bernyawa.
Wahai kekasihku terima kasih
karena cinta yang kau hembuskan mampu mengantarkanku pada gerbang
cinta yang lebih agung. Sebutlah namaku bila kamu merasa hidupmu
sudah tidak berarti.
Kekasihku temukan belahan jiwamu,
aku ingin ladang cintamu tidak pernah kering.
Aku
yang akan selalu mecintaimu sampai kapan
pun.
Diandra
as-shafi
Sepucuk surat itu adalah goresan
terakhir Diandra. Sepenggal kata-kata yang mampu membuat jantungku
berhenti berdetak, dan aliran air mata mulai membuat titik-titik
kecil diatas surat. Berkali-kali aku menciuminya berharap aku bisa
merasakan
aroma tubuh kekasihku. Cinta kita bersemi saat senja dan dia menutup
mata saat senja pula.
***
Saat
senja terakhir bersamanya.
“Seseorang yang sangat
mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak
peduli pada apapun juga. Terkadang juga tidak peduli pada
pertimbangan bahaya atau tidak,” kata Diandra sambil meraih
tanganku.
“Aku tidak mengerti?” tanyaku
dengan tatapan penuh tanya.
“Aku ingin kamu bahagia.
berjanjilah padaku bila kamu akan membuat hidupmu selalu bahagia.
meraih mimpi indahmu. Berjanjilah padaku bahwa tidak akan ada air
mata saat kamu merasa sendiri dan kesepian. Bersediakah kamu berjanji
padaku?” ucapnya penuh arti sambil melingkarkan jari manisnya ke
jariku.
“Tentu aku bersedia, aku tidak
akan pernah sendiri dan kesepian selama kamu ada disisiku. Aku bisa
mati bila kamu mencoba meninggalkanku,” kataku sambil mengerlingkan
mata. Diandra pun hanya tersenyum kecil. Dan untuk pertama kalinya
dia mengecup keningku seakan memberikan salam perpisahan. Cepat-cepat
aku hilangkan pikiran itu, dan meyakinkan bahwa dia kekasihku untuk
selama-lamanya.
Saat
senja datang aku merasakan saat itulah Diandra hadir
bersama hembusan angin yang membelaiku lembut. Seperti itulah saat
senja seolah
aku merasakan kehadirannya. Aku berjanji akan selalu bahagia untukmu,
untuk cinta kita.
Aku
akan selalu mencintaimu. Wahai belahan jiwaku Diandra as-shafi.










