Sabtu, 05 Januari 2013

Penantian Senja

Penantian Senja
Udara senja menyeruak keseluruh ruangan. Aku sedikit menarik napas panjang dan mencoba membiarkan katub udara di jantungku merasakan kesegarannya.
Senja kali ini terasa sunyi, tanpa desiran angin yang biasanya aku rasakan dari pohon-pohon di halaman rumah. Burung-burung kecil yang biasanya bertengger di lampu taman sore pun kali ini tidak terlihat. Mengapa suasana sore ini seakan membuatku merasa semakin kesepian?
*****
Aku mecintaimu, akan seperti itu selamanya.
Aku tahu engkau tidak akan pernah benar-benar meninggalkanku
Aku akan menunggumu
Dengan senyuman yang mengembang dan tatapan penuh kasih
Biar pun harus menunggumu dengan kesendirian dan penuh harap
Aku yakin kamu pasti datang
Memberikanku kejaiban baru
Datanglah dan jadikan aku sebagai tahta cintamu
Wahai kekasihku…
***
Matahari siap pergi keperaduannya untuk digantikan sang jubah malam yang akan membungkusnya. Sengatan cahayanya mulai memudar. Desiran angin mulai terasa dan aku sudah menutup mataku untuk merasakan belaiannya.
Inilah kebiasaanku sejak dia pergi dua tahun lalu. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menantinya bersama datangnya senja. Mempersilakan udara yang mulai dingin untuk menyentuh kulitku dan menanti kehadirannya melalui hembusan angin yang membawa aroma wewangian surga.
Tidak ada satu sore pun yang terlewatkan olehku untuk menantinya. Aku selalu menantimu kerana itulah harapan hidupku saat senja muncul.
****
Tiga tahun lalu
Aku bertemu lagi dengannya, pemuda berwajah manis dengan tatapan lembut itu. Kali ini aku menemukannya sedang tertawa lepas, suaranya merdu terdengar dan yang menakjubkan matanya memancarkan cahaya kebahagiaan. Saat mendengarnya berbicara aku tahu dia pemuda yang baik. Tutur katanya tertata dan pasti siapa pun yang berbicara dengannya pasti akan segan berlama-lama untuk berbincang.
Aku tertegun sejenak dari tempatku berdiri, menatapnya penuh arti. Wahai pemuda diujung sana siapakah nama dikau aku ingin berkenalan denganmu. Bolehkah aku manyapamu bila bertemu lagi? Namaku Windy, barangkali kamu mau menyapaku bila bertemu nanti,” ucapku saat itu.
Hari ini jadwal kuliahku padat, baru selesai saat cahaya terang matahari mulai digantikan oleh sang senja. Tidak ingin menunggu lama di angkot karena kemacetan kota metropolis seperti Surabaya, aku pun bergegas meninggalkan kampus dan segera mencari tumpangan yang setiap hari aku jadikan alat perpindahanku dari rumah ke kampus.
Aku mencari bangku didekat jendela, hari ini angkot cukup lenggang membuatku mempunyai tempat untuk membuka buku. Dengan buku dipangkuan ditambah semilir angin sore mebuatku semakin menikamti bacaan yang ingin segera aku selesaikan. Tanpa kusadari suara itu tiba-tiba terdengar olehku, suara yang membuatku selalu ingin berkenalan dan berbincang dengannya.
Benar saja itu ternyata dia, pemuda manis dengan tatapan lembut itu duduk disamping orang yang ada didepanku. Sekarang dengan ramah dia membantu ibu yang membawa banyak belanjaan untuk naik keatas angkot. Tuhan, sudah lamakah dia disini.
Setelah beberapa penumpang turun tinggallah empat orang lagi yang masih tersisa. Termasuk dia yang sekarang sedang menatap dan tersenyum kepadaku. Saat ini duduknya sudah bergeser cukup dekat dihadapanku dengan jarak yang tidak lebih dari tiga puluh sentimeter.
“Aku selalu melihatmu naik angkot jurusan ini, tapi sayangnya kita tidak pernah satu angkot, baru kali ini aku bisa satu angkot denganmu,” katanya dengan senyum yang masih mengembang.
“Jadi kamu pernah melihatku?” tanyaku yang aku tahu kata-kata itu seharusnya tidak aku ucapakan, tapi sudah terlanjur keluar begitu saja.
“Tentu. Kenalkan namaku Diandra,” ucapnya dengan senyuman yang membuat jantungku berdegup cepat.
“Aku Windy,” jawabku sambil membalas senyumannya.
Sore itu benar-benar indah. SANGAT INDAH. Selama sepuluh menit kami berbincang banyak hal. Mulai dari menanyakan tempat tinggal kita masing-masing, hingga berbicara soal kuliah. Kecintaannya pada pola ruangan membuatnya mendalami ilmu arsitektur. Dan yang paling menakjubkan dari perbincangan singkat itu adalah kita memiliki kecintaan yang sama terhadap buku.
Sejak peristiwa di angkot itu, kita menjadi saling mengenal. Benar saja Diandra adalah seseorang yang menyenangkan, ada perasaan selalu ingin berlama-lama bila sudah didekatnya. Tidak lama dari perkenalan singkat itu, dia menyatakan semuanya. Hatiku bergetar saat suaranya terdengar mengalun lembut dengan tutur kata yang santun, dan pernyataan singkat yang dia utarakan merubah segalanya.
Diandra as-shafi, pemuda berusia 22 tahun yang ternyata sudah lama ingin berkenalan denganku. Memperhatikanku setiap aku menunggu angkot dengan buku yang selalu ada didekapanku. Selalu bertanya-tanya siapa namaku dan kira-kira apa yang aku suka. Pemuda yang mencintai ilmu dan agamanya itu ternyata menyukaiku. Dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya ingin selalu memperhatikanku. Ada sesuatu yang kurang saat dia tidak menemukanku berdiri menunggu angkot didepan gerbang kampus.
Duhai semilir angin senja, indah nian perasaan cinta itu. Ada getar hebat saat merasakannya. Seolah hati ini mendapatkan pancaran sinar surga yang tak pernah redup. Kekaguman yang selama ini aku rasakan padanya ternyata terbalaskan. Seakan Tuhan sudah menuliskan kisah kita ini dihamparan kanvas takdir kehidupan.
Sejak dia menyatakan perasaan tulusnya itu, kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Merajut cinta dengan benih-benih kasih. Belajar mengerti dan memahami satu sama lain. Kisah indah yang akan selalu terpupuk didalam hati kita. Hingga kabar itu datang bagaikan asap yang dengan cepat menyeruak keseluruh ruangan. Kabar yang membuat semuanya berubah. Menghancurkan hidup dan harapan akan cintaku yang telah aku goreskan dalam bait-bait puisi kehidupanku.
Tuhan tahu kita saling mencintai, merasa saling membutuhkan sebagai sepasang kekasih. Nafas yang dia hembuskan adalah udara segar bagiku begitu juga sebaliknya, tapi dibalik kanvas kehidupan itu Tuhan menulis takdir lain. Selama ini Diandra mengidap penyakit mematikan, sejak berumur delapan belas tahun penyakit itu sudah bersarang dalam dirinya. Dia berhasil merahasiakan semuanya dariku dan orang-orang disekitarnya, hingga suatu hari saat senja tiba, penyakit itu dengan hebat membuat Diandra kesakitan luar biasa. Dan hatiku remuk saat dokter mengatakan bahwa kanker otak yang diderita Diandra mengalami kenaikan menjadi stadium empat dan dia divonis hanya memiliki waktu satu bulan untuk hidup, bahkan bisa lebih cepat.
Pemuda yang menjadikanku sebagai permata berkilau baginya. Pemuda yang menyanyangiku setulus hati, mengajarkanku akan arti cinta yang rumit, tapi penuh arti. Pemuda yang mampu membuka mata hatiku akan keindahan dan keajaiban sebuah kehidupan. Ternyata memiliki takdir lain, takdir yang membuat raga kita tidak akan bersatu.
****
Dirimu adalah bait-bait kehidupanku. Bertemu dan bercinta denganmu adalah takdir Tuhan yang begitu indah aku rasakan.
Windy, kekasihku aku mencintaimu, tulus dari dasar samudra hatiku yang paling dalam. Pancaran sinar matamu bagaikan cahaya kehidupaku. Aku hanyalah pemuda biasa yang menjadikamu sebagai tahta cintaku selama-lamanya hingga rangga ini tak lagi bernyawa.
Wahai kekasihku terima kasih karena cinta yang kau hembuskan mampu mengantarkanku pada gerbang cinta yang lebih agung. Sebutlah namaku bila kamu merasa hidupmu sudah tidak berarti.
Kekasihku temukan belahan jiwamu, aku ingin ladang cintamu tidak pernah kering.
Aku yang akan selalu mecintaimu sampai kapan pun.
Diandra as-shafi
Sepucuk surat itu adalah goresan terakhir Diandra. Sepenggal kata-kata yang mampu membuat jantungku berhenti berdetak, dan aliran air mata mulai membuat titik-titik kecil diatas surat. Berkali-kali aku menciuminya berharap aku bisa merasakan aroma tubuh kekasihku. Cinta kita bersemi saat senja dan dia menutup mata saat senja pula.
***
Saat senja terakhir bersamanya.
Seseorang yang sangat mencintai kekasihnya sering melakukan apa saja demi kekasihnya. Tak peduli pada apapun juga. Terkadang juga tidak peduli pada pertimbangan bahaya atau tidak,” kata Diandra sambil meraih tanganku.
Aku tidak mengerti?” tanyaku dengan tatapan penuh tanya.
Aku ingin kamu bahagia. berjanjilah padaku bila kamu akan membuat hidupmu selalu bahagia. meraih mimpi indahmu. Berjanjilah padaku bahwa tidak akan ada air mata saat kamu merasa sendiri dan kesepian. Bersediakah kamu berjanji padaku?” ucapnya penuh arti sambil melingkarkan jari manisnya ke jariku.
Tentu aku bersedia, aku tidak akan pernah sendiri dan kesepian selama kamu ada disisiku. Aku bisa mati bila kamu mencoba meninggalkanku,” kataku sambil mengerlingkan mata. Diandra pun hanya tersenyum kecil. Dan untuk pertama kalinya dia mengecup keningku seakan memberikan salam perpisahan. Cepat-cepat aku hilangkan pikiran itu, dan meyakinkan bahwa dia kekasihku untuk selama-lamanya.
Saat senja datang aku merasakan saat itulah Diandra hadir bersama hembusan angin yang membelaiku lembut. Seperti itulah saat senja seolah aku merasakan kehadirannya. Aku berjanji akan selalu bahagia untukmu, untuk cinta kita.
Aku akan selalu mencintaimu. Wahai belahan jiwaku Diandra as-shafi.




















1 komentar: